Pembajakan merupakan hal yang tidak asing lagi di Indonesia. Walaupun sudah ada peraturan dan undang-undang mengenai pembajakan, tetap saja hal tersebut menjamur di Indonesia. Pedagang software bajakan dengan santainya menjajakan dagangannya di berbagai pusat pemberlanjaan. Pembelinya pun tidak bisa dikatakan sedikit, meskipun saat ini sudah mulai banyak orang yang memiliki kesadaran untuk membeli software original.

Jika ada permintaan pasti ada penawaran. Konsep dasar ekonomi inilah yang mungkin dapat menggambarkan fenomena pembajakan software di Indonesia. Masih banyak orang yang bergantung kepada software-software berbayar seperti Microsoft Office, Adobe Photoshop, ataupun sistem operasi seperti Microsoft Windows.

Lalu sebenarnya apa yang membuat software-software populer tersebut menarik untuk dibajak? Apakah hanya karena adanya permintaan dari konsumen saja? Penulis akan mencoba menganalisanya dengan konsep CRAVED (Concealable, Removable, Available, Valuable, Enjoyable, Disposable) yang dikenalkan oleh Ronald V. Clarke, seorang Profesor di School of Criminal Justice, Rutgers University di New Jersey.

1. Concealable

Concealable adalah ketika sebuah kondisi bahwa sesuatu yang dapat dengan mudah disembuyikan atau disamarkan bisa menjadi sebuah sasaran kejahatan (Clarke, 1999). Dalam konteks software bajakan, bentuk dari software tersebut adalah sebuah file yang hanya dapat dibuka di dalam komputer. Dengan kecanggihan teknologi yang ada, software tersebut dapat dimanipulasi sehingga bisa tersembunyi dan tidak terlihat di dalam komputer kita sebagai software bajakan.

2. Removable

Software bajakan berwujud file digital. Dengan wujudnya tersebut tentunya dengan mudah file tersebut dapat berpindah tempat dari satu komputer ke komputer lainnya. Kondisi ini sama dengan apa yang dijelaskan Clarke yakni sebuah obyek bersifat removable apabila dapat dengan mudah berpindah tempat bisa menjadi sasaran kejahatan yang potensial, baik dilihat dari ukuran fisiknya, proses pemindahan tempat dari obyek tersebut, dan kesempatan atau waktu yang cukup untuk proses pemindahannya (Clarke, 1999).

3. Available

Available adalah sebuah kondisi bahwa sesuatu memiliki nilai inovasi baru yang menarik yang dapat memunculkan sebuah pangsa pasar yang ilegal (Clarke, 1999). Inovasi terletak pada fitur-fitur yang ada di software-software populer serta kemudahan pengoperasian, membuat software-software tersebut selalu menarik minat penggunanya.

4. Valuable

Para pembajak software melihat software-software populer menjadi sebuah obyek yang bernilai, di mana sebuah kondisi bahwa sebuah obyek berpotensi untuk menjadi sasaran kejahatan karena  memiliki nilai yang dianggap berharga (Clarke, 1999). Software-software populer tersebut selalu dicari dan dibeli oleh banyak orang, sehingga dapat dilihat bahwa software tersebut memiliki nilai yang dianggap berharga.

5. Enjoyable

Enjoyable adalah sebuah kondisi bahwa sebuah obyek berpotensi untuk menjadi sasaran kejahatan apabila si pelaku dapat memperoleh kepuasan dan keuntungan dari kejahatan yang dilakukannya, selain dari keuntungan materi (Clarke, 1999). Dalam hal ini, konsumen software bajakan tentunya memiliki kepuasan tersendiri dalam menggunakan software bajakan tersebut. Ia hanya perlu mengeluarkan sedikit uang untuk membeli software bajakan (dibandingkan dengan yang original). Bahkan jika ia memiliki koneksi internet yang memadai, cukup dengan mencarinya di situs file sharing ataupun Torrent dan mengunduhnya tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun.

6. Disposable

File digital juga dapat bersifat disposable, yakni sebuah kondisi bahwa sebuah obyek dapat berpotensi menjadi sasaran kejahatan jika obyek tersebut dengan mudah dapat dipindahtangankan dan dijual kembali ke pasar (Clarke, 1999). Kemudahan fungsi copy dan paste yang ada di komputer, sangat memungkinkan jika file software bajakan tersebut dipindahtangankan.

Daftar Pustaka:

Newman, Graeme R., dan Clarke, Ronald V. “Superhighway Robbery (Crime Science Series)”. Portland: Willan Publishing, 2003.

Clarke, Ronald V., “Hot Products: Understanding, Anticipating and Reducing Demand for Stolen Goods”, Police Research Series Paper 112, Home Office Policing and Reducing Crime Unit Research, Development and Statistics Directorate, 1999.

Gambar via faronics.com

Artikel Menarik Lainnya:

The following two tabs change content below.
Product Admin/Content Editor at tokopedia.com. Casual gamer | tech-writer @gadgetgaul | gadget enthusiast. Follow me on Twitter @juarazr