Jakarta merupakan kota metropolitan yang memiliki kesibukan tanpa henti. Setiap detiknya, terjadi berbagai macam peristiwa di seluruh pelosok kota tersebesar di Asia Tenggara tersebut. Sebagai ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia, Jakarta menjadi sebuah kota yang dapat mencerminkan secara ringkas keseluruhan dari Indonesia.

Selain itu, perkembangan teknologi yang sangat cepat juga menuntut kota ini untuk selalu berbenah setiap harinya di berbagai sektor, seperti transportasi umum, tata kota, maupun fasilitas penunjang kegiatan warganya. Untuk memenuhi salah satu kebutuhan warga Jakarta, pemerintah kota provinsi DKI Jakarta telah menyediakan sebuah fasilitas yang dapat dinikmati secara gratis oleh seluruh warga, terutama yang senang bermain ke taman ataupun menggunakan transportasi umum (Kopaja). Fasilitas tersebut adalah WiFi gratis berkecepatan tinggi.

Tentunya kita semua menyambut dengan sukacita kehadiran dari WiFi gratis tersebut. Apalagi bisa dibilang saat ini adalah masanya kehidupan digital, kehidupan sehari-hari dari kita yang tidak dapat lepas dari teknologi. Siapa sih warga kelas menengah – atas Jakarta yang tidak menggunakan gadget sebagai salah satu alat pemenuhan kebutuhan primernya sekarang?

Penulis yakin hampir semua pasti menggunakannya, baik digunakan untuk online jejaring sosial, main game di kala mengisi waktu senggang, atau mendengarkan lagu dari band kesayangan.Jangankan kelas menengah – atas, tukang bakso keliling sama kuli bangunan aja sekarang doyannya buka Facebook maupun Twitter. Pastinya kita semua senang dengan adanya WiFi gratis tersebut, dalam pikiran kita (termasuk penulis) “Yes! Bisa online gratisan nih pas di jalan!”

Dampak Negatif

Tapi para pembaca pernah kepikiran nggak sih? Jakarta tidak selamanya aman. Sudah menjadi rahasia umum beberapa wilayah publik di Jakarta seperti transportasi umum, terminal bus, stasiun kereta, pasar tradisional, pesimpangan lampu lalu-lintas, ataupun di pinggir jalan saja tindak kejahatan kerap kali terjadi.

Kejahatan jalanan seperti pencopetan dan perampokan sudah seperti makanan sehari-hari warga Jakarta yang kurang beruntung. Kok bisa ya kayak gitu? Ya banyak sih alasannya. Bisa dari banyaknya pengangguran sehingga orang dengan terpaksa merebut milik orang lain agar dapat survive. Bisa juga dari pihak penegak hukum yang kurang optimal dalam melaksanakan tugas sebagai penjaga ketertiban umum.Dan masih banyak alasan-alasan lainnya.

Nah lantas apa hubungannya dengan WiFi gratis di taman dan bus kota? Penulis akan coba mengkaitkan 2 hal tersebut dengan ilmu yang penulis dapatkan selama kuliah (Rational Choice Theory oleh Clarke). Pertama, dengan adanya fasilitas WiFi tersebut, maka akan semakin banyak orang – orang yang membawa dan menggunakan gadget mereka ketika bepergia nmenggunakan Kopaja ataupun sedang jalan-jalan santai di taman.

Kita dapat menyebut orang-orang tersebut sebagai suitable target, atau para calon korban dari pelaku yang akan melakukan tindak kejahatannya. Nah targetnya sudah ada, terus faktor apa lagi yang muncul? Kedua adalah motivated offender atau para pelaku dari kejahatan tersebut. Kejahatan akan terjadi bukan hanya karena adanya peluang seperti yang dibilang oleh Bang Napi tapi juga karena adanya motivasi dari pelaku itu sendiri.

Dengan banyaknya orang yang membawa gadget, pelaku akan semakin termotivasi untuk melakukan tindak kejahatan karena semakin banyak target yang dapat copet/rampok gadgetnya. Selain hal itu, kurangnya penjagaan dari pihak yang berwenang juga dapat menambah motivasi dari si pelaku tersebut. Hal ini kita sebut dengan uncapable guardian. Pernah nggak sih kita melihat polisi atau petugas keamanan jalan-jalan di taman? Ada nggak sih kamera cctv di taman yang bisa dipakai untuk memantau setiap waktu?

Solusi Permasalahan

Pengalaman penulis jalan-jalan ke Singapura, hampir di setiap sudut kota, termasuk taman, dipasangi CCTV. Jadi, kemungkinan terjadinya tindak kejahatan di sana dapat diminimalisir, karena motivasi atau niat dari pelaku dapat berkurang dengan adanya penjagaan tersebut. Bagaimana dengan di Jakarta sendiri? Di bus TransJakarta saja yang setiap bus dan haltenya dijaga masih sering terjadi tindak kejahatan seperti pencopetan maupun pelecehan seksual.

Penulis bukannya tidak mendukung program that so-called Jakarta Smart City, tapi penulis cuma ingin menyampaikan saran kepada pemerintah kita bahwasannya dalam meluncurkan sebuah kebijakan jangan setengah-setengah. Program pengadaan WiFi gratis di tempat umum itu bagus, tapi lebih bagus lagi jika keamanan di tempat umum tersebut dibuat lebih memadai. Karena apapun yang terjadi, keamanan dan kenyamanan warga adalah hal yang paling utama, bukan?

Askar Juara
Mahasiswa jurusan Kriminologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik  Universitas Indonesia. Memiliki minat dalam bidang teknologi informasi, khususnya di perkembangan komputer dan gadget. Penulis juga aktif di subforum Hardware Computer di forum Kaskus. Kamu bisa follow Twitter penulis di @juarazr

sumber gambar : ahok.org

Artikel Menarik Lainnya:

The following two tabs change content below.