April 2012 Facebook mengejutkan dunia dengan pengumuman akuisisi senilai US$1 milliar berupa uang tunai dan saham terhadap Instagram yang saat itu belum genap berumur 2 tahun, hanya memiliki sekitar 13 orang karyawan dan belum memiliki penghasilan. Saat itu Instagram mengklaim mempunyai sekitar 30 juta akun dan ada hampir 1 milliar foto yang telah diunggah pengguna. Pada Oktober 2013 Instagram mengumumkan mereka akan mulai menjual iklan.

Februari 2014 Facebook kembali mengejutkan dunia dengan pengumuman akuisisi terhadap WhatsApp yang baru berusia hampir 5 tahun, sekitar 50 orang karyawan dan 450 juta pengguna aktif yang bertukar sekitar 53 milliar pesan tiap hari. WhatsApp tidak mempekerjakan karyawan yang khusus menangani pemasaran dan kehumasan serta tidak pernah mengeluarkan uang sepeser pun untuk aktivitas pemasaran apapun.

Akuisisi tersebut bernilai US$19 milliar (sekitar Rp224 triliun) berupa uang tunai sebesar US$4 milliar dan saham Facebook senilai US$12 milliar serta US$3 milliar tambahan saham kepada karyawan WhatsApp jika mereka tetap bekerja hingga 4 tahun ke depan. Jika di kemudian hari ternyata akuisisi ini gagal maka Facebook wajib membayar US$1 milliar ke WhatsApp dalam bentuk uang tunai dan jika akuisisi ini ditolak pihak berwenang maka Facebook akan membayar US$1 milliar ke WhatsApp dalam bentuk saham Facebook.

Meski dikenal luas sebagai layanan chat berbasis teks, WhatsApp diam-diam telah menjadi salah satu layanan berbagi gambar terbesar di dunia. Pada Desember 2013 WhatsApp tercatat melayani pertukaran 500 juta gambar setiap hari dan pada siaran pers pengumuman akuisisi Facebook terhadap Instagram pada Februari 2014, angka tersebut telah menjadi 600 juta gambar. Sebagai perbandingan, Facebook menangani 350 juta gambar/hari dan Instagram 55 juta gambar/hari.

Secara teori, pengguna dapat memanfaatkan WhatsApp gratis pada 1 tahun pertama dan harus membayar layanan tersebut US$1/tahun untuk tahun-tahun berikutnya. Meski ada notifikasi instruksi untuk membayar setelah lewat masa 1 tahun, selama ini pengguna di Indonesia mendapatkan notifikasi lain bahwa grace period mereka telah diperpanjang tanpa pernah mengganggu apalagi menghentikan layanan chat terpopuler ke-2 di Indonesia setelah BBM tersebut.

Salah satu kemungkinan alasan WhatsApp tidak pernah benar-benar menagih US$1/tahun kepada penggunanya di Indonesia adalah metode pembayaran. Selain pemilik kartu kredit di Indonesia yang masih sedikit, pengguna Android di Indonesia jarang menghubungkan kartu kredit dengan akun Google mereka. Sementara jumlah pengguna iOS yang lebih sering menghubungkan kartu kredit dengan akun iTunes mereka relatif masih sedikit.

Sementara kebijakan WhatsApp yang mewajibkan pelanggannya baru membayar biaya langganan per tahun mulai tahun ke-2 dan bukan bayar sekali pada saat pengunduhan seperti kebanyakan aplikasi lain menjadi tantangan sendiri jika WhatsApp ingin menerapkan pembayaran dengan pemotongan pulsa operator seluler. Kenapa? Karena hingga saat ini para operator seluler di Indonesia belum terbiasa dengan metode pembayaran unik tersebut sekaligus tidak memberikan keuntungan signifikan bagi mereka.

WhatsApp masih tetap berkomitmen untuk menjadikan layanannya bebas dari segala jenis iklan setelah pengumuman akuisisi besar ini dan tidak akan ada perubahan apapun yang akan dirasakan oleh penggunanya. Sementara di sisi lain kehadiran WhatsApp menjadi keluarga Facebook tentu memiliki tuntutan harus memberikan kontribusi positif bagi laporan keuangan Facebook yang telah menjadi perusahaan publik.

Akankah suatu hari WhatsApp akan muncul iklan seperti yang terjadi dengan Instagram atau WhatsApp mengubah skema pembayarannya agar pengguna di Indonesia dapat mudah membayar melalui pemotongan pulsa operator seluler serta melakukan pemblokiran terhadap pengguna yang belum membayar? Jika hal tersebut benar-benar terjadi suatu hari nanti, akankah Gadgeteers beralih menggunakan layanan chat BBM atau LINE yang gratis?

featured image via clotheshorse.org

Artikel Menarik Lainnya:

The following two tabs change content below.
5 Years in IT Retailer, Startup owner, Gadget Enthusiast, Social Media Professional, Wordsmith, Amateur Jester.