Perusahaan teknologi asal Tiongkok pemilik mesin pencari terbesar ke-2 dunia, Baidu, mengklaim salah satu produk perangkat lunak mereka yang bernama PC Faster pada sepanjang tahun 2013 telah berhasil meraih sekitar 3 juta pengguna Indonesia meski mereka baru resmi hadir di Indonesia sejak pertengahan tahun 2013 silam. Baidu PC Faster berfungsi untuk meningkatkan waktu boot, efektivitas penggunaan RAM dan kinerja sistem komputer pribadi secara keseluruhan.

Hasil laporan State of Internet oleh Akamai Technologies pada kuartal 2 tahun 2013 menunjukan bahwa saat ini Indonesia menduduki peringkat pertama di dunia dalam hal negara paling beresiko terhadap serangan malware. Untuk itu kini Baidu tengah mengembangkan antivirus mereka dalam versi Bahasa Indonesia yang akan didistribusikan secara gratis pada tahun 2014 mendatang. Meski gratis, Baidu Antivirus telah mendapatkan penghargaan VB100 karena kemampuannya untuk mendeteksi virus dan resiko pengoperasian sistem pada komputer dengan menggunakan sistem keamanan berbasis cloud secara real-time.

Pada jumpa pers yang berlangsung di Jakarta pada 19 Desember 2013 lalu, Bob Bao (Managing Director Baidu Indonesia) mengatakan bahwa baik Baidu PC Faster maupun Baidu Antivirus akan selalu gratis, tidak ada iklan dan tambahan fitur berbayar. Memasuki tahun 2014, Bob menargetkan untuk dapat menggaet 5 juta pengguna Baidu PC Faster dan 1 juta pengguna Baidu Antivirus di Indonesia.

Baidu-Indonesia-GG
Selain itu pada tahun 2014 Baidu juga memiliki rencana untuk merilis direktori web bernama Hao123 dan peramban bernama Spark bagi pasar komputer desktop Indonesia. Untuk mengantisipasi tingginya penggunaan ponsel di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan, Baidu akan merilis aplikasi penghemat baterai bernama DuBattery Saver dan jejaring sosial foto mirip Instagram bernama Photo Wonder.

Bob juga mengatakan bahwa ia telah memiliki rencana untuk meluncurkan mesin pencari Baidu di Indonesia namun ia belum dapat memastikan kapan ia akan melakukannya. Saat ini mesin pencari Baidu menguasai 72% pasar di Tiongkok namun jika ingin meluncurkannya di Indonesia, Baidu harus terlebih dahulu menjaring konten dan informasi lokal serta menggunakan Bahasa Indonesia.

Artikel Menarik Lainnya:

The following two tabs change content below.