Pernahkah gadgeteers mengalami salah paham saat berkomunikasi lewat teks seperti SMS atau chatting di smartphone? Bahkan, salah paham ini bisa menjadi sumber pertengkaran yang awal mulanya hanya sepele. Atau sebaliknya, pernahkah ketika gadgeteers berbicara di telepon, pembicaraan diakhiri dengan, ‘SMS-in alamatnya, ya,’ atau, ‘BBM aja nomer rekeningnya.’

Baik berbicara secara lisan maupun lewat teks, masing-masing memiliki dimensinya sendiri. Dalam percakapan lisan, tentunya kita bisa mendengar nada dan intonasi lawan bicara kita, juga berbagai bentuk ekspresi lain seperti apakah ia berbicara sambil tersenyum atau suaranya terdengar berat diselingi helaan napas panjang. Sepintas, percakapan lisan mungkin dianggap jauh lebih efektif dibanding komunikasi teks, yang bisa bikin miskom karena kita sulit menebak ekspresi lawan bicara kita saat mengatakannya. Benarkah demikian?

Inovasi terus-menerus dalam pengembangan aplikasi chatting kini menghadirkan beragam seri sticker dan emoticon yang tidak hanya ekspresif, tapi juga imajinatif dan bisa mendramatisir suasana. Sticker dan emoticon ini membuat percakapan teks lebih seru dan ‘hidup’. Namun, mungkin sebagian dari sticker dan emoticon ini lebih cocok untuk percakapan ringan dan ekspresi ‘lucu-lucuan’. Bagaimana halnya dengan percakapan serius? Apakah adanya sticker dan emoticon tetap menjadi solusi untuk komunikasi teks yang efektif? Atau  komunikasi lisan tetap yang paling efektif?

Di sisi lain, ada fenomena sebagian orang yang bisa lebih ‘terbuka’ atau ‘cerewet’ saat bicara lewat teks, tetapi di dunia riil, mereka lebih cenderung pendiam. Sepertinya, berbicara lewat teks memberi lebih banyak keleluasaan bagi orang-orang seperti ini. Fenomena lainnya lagi, ada hal-hal yang rasanya begitu sulit diungkapkan secara lisan, sehingga akhirnya lebih nyaman dituangkan lewat tulisan.

Sebenarnya, efektivitas media komunikasi, baik itu secara lisan ataupun lewat teks, tergantung dari tujuan kita berkomunikasi. Kelebihan komunikasi teks berkaitan dengan keakuratan data, keleluasaan untuk menyampaikan pesan secara lengkap tanpa interupsi atau gangguan sekitar seperti dipotong orang lain, juga tidak perlu terbebani dengan bagaimana si pembicara harus tampil atau membawa diri. Komunikasi teks juga memungkinkan penyuntingan terlebih dahulu untuk memilih kata-kata yang lebih tepat, atau  penyampaian yang lebih hati-hati agar tidak menyinggung lawan bicara. Kelemahannya, lawan bicara tidak dapat mendengar atau melihat langsung ekspresi pembicara. Apakah jawabannya pendek karena sedang kesal, atau karena sibuk? Apakah ia benar-benar tertawa saat menampilkan emoticon tertawa? Kelebihan komunikasi lisan, seperti sudah disinggung di atas, berkaitan dengan ekspresi langsung pembicara, dan kelemahannya adalah tidak terdokumentasi, dapat menyulut emosi karena penyampaian yang buru-buru, dan khusus untuk percakapan kelompok, seringkali didominasi mereka yang lebih vokal (baik dari suara yang lebih keras juga banyaknya pesan yang disampaikan) sehingga tidak memberi ruang pada mereka yang kurang dominan.

Terlepas dari media yang dipilih, yang terpenting dalam berkomunikasi adalah niat baik kita sebagai pembicara. Sudahkah kita memberi perhatian yang cukup terhadap reaksi lawan bicara kita? Keramahan dan ungkapan perhatian yang tulus akan selalu memberi sentuhan positif dan menyenangkan pada kegiatan komunikasi yang kita lakukan.

featured image via line

Artikel Menarik Lainnya:

The following two tabs change content below.