Pernahkah Gadgeteers terbersit pemikiran kenapa bermain games itu sering kali lebih menyenangkan dari pada mengerjakan PR atau tugas sekolah? Pernahkah Gadgeteers kepikiran kenapa ada orang yang begitu semangat untuk buka kamus, googling dan bertanya ke sana kemari demi menuntaskan sebuah game tetapi jika giliran dihadapkan dengan PR atau tugas sekolah, dia begitu malas?

Sebelum membaca artikel ini lebih lanjut, pastikan Gadgeteers sudah benar-benar mengerti bahwa apapun yang berlebihan itu tidak baik. Kerja, olah raga dan makan sayur-sayuran yang sering dipersepsikan sebagai sesuatu yang baik pun akan terlihat efek negatif dibandingkan kebaikannya jika kita lakukan atau konsumsi di luar batas kewajaran.

Berdasarkan tujuannya, (video) games biasa dibagi menjadi serious games dan entertainment games.

Ketika sebuah game diproduksi untuk tujuan pembelajaran tertentu berdasarkan semirip mungkin kejadian sebenarnya di dunia nyata maka game tersebut dapat kita kategorikan sebagai serious games. Meski serius, game jenis ini sedikit banyak tetap harus mengandung unsur hiburan demi mencapai tujuan untuk mengedukasi alam bawah sadar para pemainnya. Misalnya jika kita ingin mengajar orang-orang di suatu gedung perkantoran bagaimana menyelamatkan diri saat terjadi kebakaran, kita dapat membuat serious games yang menggambarkan jika si pemain menggunakan lift untuk turun maka karakter tersebut dapat terjebak dalam lift dan mati sedangkan jika si pemain menggerakan karakternya untuk turun dengan tangga darurat maka karakter tersebut bisa selamat dan si pemain mendapatkan poin.

Entertainment games adalah jenis games yang paling umum kita temui dan mainkan. Tujuan games jenis ini adalah untuk hiburan semata dengan sedikit atau tanpa memasukan unsur edukasi sama sekali. Games jenis ini sering dituding banyak orang menyebabkan kemalasan atau mengajarkan kekerasan dan kata-kata kasar pada anak-anak. Tidak adakah dampak positif bermain games jenis ini?

Video games memberikan banyak positive feedback kepada para pemainnya. Jika mengalahkan musuh, menamatkan level, menemukan benda langka dan hampir setiap keberhasilan kecil lainnya, si pemain mendapatkan pujian, penghargaan atau hadiah. Sesuatu yang jarang dilakukan oleh kebanyakan orang tua atau guru saat ini. Sebaliknya jika si pemain gagal dalam suatu misi di video games, ia hanya perlu mengulanginya lagi tanpa perlu mendapatkan celaan, kemarahan atau hukuman dari orang tua dan guru.

Sebuah studi pernah dilakukan oleh lembaga riset Max Planck Institute pada pertengahan 2013 silam terhadap 23 orang dewasa dengan umur rata-rata 24 tahun yang diminta untuk bermain video games Super Mario 64 di Nintendo XXL selama 30 menit/hari dalam waktu 2 bulan. Hasilnya? Peningkatan kapasitas otak di bagian yang mengontrol navigasi, ingatan, perencanaan strategis dan kemampuan motorik tangan.

Sementara penelitian lain menunjukan bahwa bermain video games bergenre first person shooter (fps) seperti Unreal Tournament atau Call of Duty selama 50 jam dalam jangka waktu 9 minggu dapat meningkatkan kemampuan penglihatan manusia di dunia nyata seperti melihat tulisan berukuran kecil dan mengidentifikasi perbedaan kontras pada warna. Hasil penelitian yang dipublikasikan oleh Universitas Rochester pada Maret 2009 tersebut didanai oleh National Eye Institute di Universitas Tel Aviv.

Sebuah tim dari Universitas California, San Francisco pada tahun 2013 lalu menunjukan bagaimana memainkan sebuah video games yang mereka rancang khusus 1 jam sehari dan 3 hari dalam seminggu selama 1 bulan terbukti secara ilmiah dapat berguna untuk membantu mengembangkan kontrol kognitif dan memperlambat proses penuaan otak hingga 7 tahun pada orang tua dengan umur 60 s/d 85 tahun.

Menariknya manfaat-manfaat dari bermain game itu tadi baru akan terasa justru saat Gadgeteers stop bermain video games lalu keluar rumah dan mengeksplorasi dunia nyata. Jadi bermain game-lah secukupnya tanpa perasaan bersalah kemudian lakukan aktivitas-aktivitas lainnya untuk memaksimalkan potensi dirimu.

featured image via dammar-asihan.blogspot.com

Artikel Menarik Lainnya:

The following two tabs change content below.
5 Years in IT Retailer, Startup owner, Gadget Enthusiast, Social Media Professional, Wordsmith, Amateur Jester.