Tweet artis Nikita Mirzani pada 21 September 2013 yang bertuliskan, “Singapore panas bgt,” menjadi heboh karena location tag tweetnya saat itu menunjukan dia sedang berada di Grogol, Jakarta Barat. Banyak orang yang bukan hanya pengguna Twitter tapi juga pengguna Instagram, Facebook dan pembaca media online yang menyajikan berita tentang kejadian ini kemudian membully (mengejek) artis tersebut tanpa ampun.

Tak lama setelah itu Nikita Mirzani mengunci akun Twitternya lalu memberikan klarifikasi keberadaannya di Singapore dengan screenshot tiket pesawat Singapore Airlines dan passport atas namanya yang telah terstempel imigrasi Singapore pada tanggal 21 September 2013. Untuk lebih meyakinkan keberadaannya di Singapore, dia menelpon sebuah media online dengan nomor telepon berawalan +65 yang memang merupakan kode telepon Singapore.  Semua klarifikasi tersebut tidak serta merta membuat orang-orang berhenti membully dirinya di berbagai media sosial.


Menariknya mereka yang membully Nikita Mirzani tidak hanya datang dari orang-orang awam tetapi juga orang-orang yang saya kenal akrab dengan teknologi informasi*.

Teknologi tidak mungkin salah? Tunggu dulu..

Berselang beberapa jam setelah kejadian tersebut, ada beberapa akun Twitter yang menceritakan bahwa mereka juga pernah merasakan salah location tag dengan jarak yang cukup jauh dengan lokasi mereka sebenarnya saat ini. Berikut adalah 5 tweet di antaranya :

Beberapa hari lalu saat melintas dekat pos satpam kompleks rumah, saya melihat seorang supir taxi tengah menanyakan jalan keluar dari kompleks rumah ke jalan raya terdekat. Setelah satpam kompleks menjelaskan, supir taxi tersebut mengucapkan terima kasih lalu mengemudikan taxinya pergi mengikuti petunjuk satpam. Satpam tersebut lalu berbicara ke temannya,”Taxi sekarang harusnya ada GPS semua ya? Gak perlu tanya-tanya lagi..”

Saya jadi teringat kisah beberapa tahun sebelumnya saat menemani ayah bepergian ke rumah teman lama yang lokasinya tidak ia ingat betul. Saat itu kakak saya kebetulan baru memasangi mobil kami dengan GPS. Dalam perjalanan mobil lebih kurang 1 jam dengan panduan GPS tersebut, saya sampai pada kesimpulan manusia tidak bisa sepenuhnya mengandalkan teknologi untuk mengambil keputusan. Meski peta pada GPS tersebut cukup lengkap tetapi GPS pada saat itu belum mampu mengenali arah arus kendaraan. Jika kami mengikuti arah yang direkomendasikan GPS, hari itu mungkin kami harus beberapa kali tertangkap polisi lalu lintas.

Pada video berikut coba hitung sudah berapa kali dunia di ambang perang nuklir jika keputusan diambil hanya mengandalkan sebuah teknologi :

Kecuali keadaan darurat, jangan membuat suatu kesimpulan atau keputusan hanya mengandalkan sebuah teknologi. Let’s stop bullying. Make internet the better place..

* Admin akun Twitter @GadgetGaul sempat ikut membully dan mendapatkan RT cukup banyak. Sadar akan kekeliruan, kami sudah menghapus tweet dan melalui tulisan ini memohon maaf.

Artikel Menarik Lainnya:

The following two tabs change content below.
5 Years in IT Retailer, Startup owner, Gadget Enthusiast, Social Media Professional, Wordsmith, Amateur Jester.