Beberapa waktu lalu, saya bareng teman pengguna iPhone iseng mencoba SIRI dan mengajukan pertanyaan acak untuk mengetes jawabannya, termasuk pertanyaan seperti, ‘Will you marry me?’ Hampir semua jawaban SIRI berupa pernyataan yang cukup logis, tidak seperti ‘answering machine’ dengan jawaban ‘template’ yang kurang nyambung. Ya, SIRI memang asisten virtual yang cukup canggih dan dapat membantu kita menemukan informasi yang dibutuhkan. Karena bisa ‘diajak bicara’, SIRI kadang juga dijadikan bahan untuk mengolok-olok teman yang kesepian. Daripada tidak ada teman ngobrol, ngobrol aja sama SIRI!

Karena tujuan SIRI adalah membantu mencarikan informasi, SIRI mungkin tidak dapat diajak berinteraksi lebih jauh. Akan tetapi, kemungkinan untuk merancang fitur atau aplikasi yang berfungsi serupa tidak lagi mustahil. Bayangkan misalnya, konsultasi psikologi atau medis, curhat sahabat, bahkan tujuan interaksi lain dengan kemungkinan tak terbatas.

Saya pernah mendapat informasi app untuk kencan virtual, yang ditujukan untuk audience usia abg. App ini prinsipnya mirip-mirip dengan virtual pet dari era Tamagotchi beberapa dekade lalu, Pet Society di era Facebook, hingga boneka lucu yang bisa dipelihara layaknya pet baru-baru ini. Akan tetapi, dalam app ini, yang kita berikan perhatian bukan hewan peliharaan, melainkan pacar virtual, yang bisa ngambek bahkan melontarkan kata-kata yang menyakitkan jika kita membuatnya kesal, atau sebaliknya mengekspresikan kasih sayang jika ia diperlakukan dengan baik.

Bisa jadi, hal-hal semacam ini hanya menjadi topik obrolan ringan dan santai untuk Gadgeteers di Indonesia (semoga!). Namun tidak demikian halnya pada populasi Jepang, yang belum lama ini diberitakan semakin kurang berminat untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis!

Penduduk Jepang dikabarkan telah mengalami sindrom selibat (tidak ada keinginan memiliki pacar atau menikah dengan lawan jenis). Media online The Guardian mengungkapkan bahwa 45% wanita berusia 16-24 tahun di Jepang tidak tertarik atau menghindari kontak seksual dengan lawan jenis, dan lebih dari 25% prianya juga merasakan hal yang sama. Sindrom selibat ini telah menurunkan angka kelahiran secara signifikan di negara Jepang, hingga di tingkat yang mengkhawatirkan.

Walau tekanan ekonomi dan pergeseran gaya hidup juga berperan dalam fenomena ini, kemajuan teknologi tidak dapat dipisahkan dari sindrom selibat di masyarakat Jepang. Seorang tokoh penulis sekaligus pengamat kalangan generasi muda Jepang menyatakan bahwa masa depan hubungan antar lawan jenis di Jepang akan dikendalikan oleh perkembangan teknologi. Jepang telah mengembangkan dunia virtual dan sistem komunikasi online yang sangat canggih, dengan berbagai apps smartphone yang paling imajinatif di seluruh dunia. Seorang konselor relationship di Jepang bahkan mengungkap bahwa ada seorang pria di usia 30-an awal yang tidak bisa terangsang kecuali saat ia menonton robot wanita di game yang mirip Power Rangers.

Bagaimana dengan Gadgeteers di Indonesia? Semoga kencan dengan SIRI tetap sebatas bahan lucu-lucuan aja, ya. Jangan lupa bahwa kehangatan atau sentuhan fisik dengan sesama manusia tetap sangat diperlukan untuk kesehatan Gadgeteers.

featured image via mensjourneyid.com

Artikel Menarik Lainnya:

The following two tabs change content below.