Laporan keuangan semua operator CDMA Indonesia pada pada beberapa tahun terakhir terus merugi hingga triliunan rupiah. Telkom dan Indosat mengumumkan rencana untuk menutup bisnis CDMA lalu memindahkan pelanggan Flexi dan Starone mereka ke jaringan GSM. Beberapa waktu silam beredar kabar yang menyebut Esia dan Smartfren pun tinggal menghitung hari menuju kebangkrutan dan era CDMA di Indonesia resmi berakhir.

Seolah ingin menjawab keraguan tersebut, Smartfren mengumumkan rencana investasi, ekspansi bisnis dan target pertumbuhan pelanggan pada acara Smartfren Business Outlook 2014 yang berlangsung pada hari Rabu, 5 April 2014 di Hotel Pullman, Jakarta. Dalam acara tersebut, Direktur Keuangan Smartfren Antony Susilo menjelaskan bahwa meski masih belum meraih laba, kinerja keuangan operator milik grup Sinarmas itu menunjukkan performa pertumbuhan positif yang pesat dari tahun ke tahun sejak Smart bergabung dengan Mobile-8 pada tahun 2010.

Smartfren-Outlook-2014-GGgambar via @smartfrenworld

Pada tahun 2011 Smartfren memiliki 7,6 juta pelanggan. Angka tersebut meningkat jadi 11 juta pelanggan pada tahun 2012. Karena Smartfren banyak menghapus nomor pelanggan yang tidak aktif (tidak top-up selama 3 bulan atau lebih) untuk mengefisiensikan biaya, pada tahun 2013 angka ini kemudian hanya tumbuh tipis menjadi 11,3 juta pelanggan. Hasil dari aksi bersih-bersih ini pun mulai terasa dari peningkatan jumlah pendapatan dari sebelumnya Rp1,69 triliun di tahun 2012 menjadi Rp2,4 triliun di tahun 2013 di mana sekitar 70% pendapatan tersebut berasal dari layanan data. Di tahun 2014 Smartfren menargetkan 15.3 juta pelanggan.

Sekitar 1.3 juta unit ponsel Andromax yang sejak akhir tahun 2013 sukses menempati posisi ke-2 sebagai ponsel paling laris di tanah air dengan menggeser merek-merek ponsel ternama dunia pun menambah optimisme para petinggi Smartfren. Akhir Januari 2014 silam mereka sudah mengumumkan peluncuran 2 seri Andromax baru, yakni U3 dan V dan berjanji masih akan meluncurkan beberapa seri Andromax lagi di tahun 2014 untuk mencapai target 4 juta unit ponsel. Smartfren mengalokasikan anggaran hingga US$400 juta (sekitar Rp4.6 triliun) untuk keperluan mengimpor ponsel-ponsel ini.

Smartfren-Business-2014-GG
Untuk mendukung target ambisius tersebut, Smartfren juga mempersiapkan dana US$100 juta (sekitar Rp1,15 triliun) yang 80% diperoleh dari pinjaman bank dan perusahan investasi serta 20% dari kas perusahaan untuk memperluas jaringan dari 5.807 BTS di tahun 2013 menjadi 6.500 BTS di tahun 2014. Penambahan sekitar 700 BTS tersebut akan diprioritaskan pada lokasi-lokasi di mana ponsel Smartfren paling laku terjual. Smartfren juga berencana akan melakukan penambahan infrastruktur kabel serat optik dari 9.345 km menjadi lebih dari 13.000 km di tahun 2014.

Dengan pemaparan angka-angka tersebut, Smartfren seolah ingin berkata,”Kami belum menyerah!” Menjadi optimis tidak selalu mudah tetapi menjadikan optimisme sebuah kenyataan adalah pekerjaan yang jauh lebih menantang. Good luck.. 😉

Artikel Menarik Lainnya:

The following two tabs change content below.