Tidak dapat dipungkiri lagi, perkembangan pesat di dunia teknologi gadget telah mengubah gaya hidup dan perilaku penggunanya. Saya sendiri lahir di era ketika perkembangan gadget belum secanggih sekarang, jadi saya cukup sadar (aware) dengan perubahan yang terjadi. Dari semula mengandalkan telepon umum yang menggunakan koin, diikuti telepon umum dengan kartu pulsa, handphone berukuran besar dengan layar teks hanya sebaris, hingga smartphone dan tablet dengan layar sentuh seperti sekarang.

Mungkin banyak dari gadgeters tidak melewati masa itu, dan menerima teknologi terkini sebagai sesuatu yang wajar atau sudah by default. Namun, disadari atau tidak, perkembangan teknologi komunikasi sangat berpengaruh pada pola interaksi di antara manusia penggunanya.

Di periode awal maraknya penggunaan Blackberry Messenger misalnya, sempat beredar ungkapan ‘mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat’. Yang sebelumnya kita hanya perlu mengecek handphone saat menerima SMS atau panggilan telepon, kini bisa mendapat pesan masuk secara konstan sepanjang hari dari berbagai fasilitas chatting dan social media.

Selain ungkapan di atas, muncul juga ungkapan ‘kita ini hidup di age of distraction’, karena adanya distraksi terus-menerus dari berbagai media telekomunikasi yang kita gunakan. Sebentar-sebentar balas LINE. Sebentar-sebentar upload foto di Path. Sebentar-sebentar cek Whatsapp. Bahkan dunia anak-anak dan remaja yang dulu banyak diwarnai aktivitas di luar rumah, dengan interaksi fisik langsung bersama teman-teman, kini semakin jarang ditemui.

Pertanyaannya, masihkah kita pengguna gadget menjadi ‘tuan’ bagi teknologi? Atau sebaliknya, teknologi telah memperhambakan kita, yaitu ketika kita menerima begitu saja semua fitur dan teknik pengoperasian gadget yang ditawarkan oleh pasar. Apakah kita benar-benar membutuhkan semua kecanggihan yang kita konsumsi? Atau kita dengan sadar mengatur bagaimana kita menggunakan gadget kita. Kenyataannya, produk tidak selamanya dirancang untuk memenuhi kebutuhan konsumen, tetapi tidak jarang juga diciptakan dengan terobosan-terobosan yang mungkin tidak sepenuhnya dibutuhkan oleh konsumen, tetapi diperlukan demi memenangkan persaingan pasar. Demi mengikuti terobosan-terobosan itu, tak jarang justru konsumenlah yang harus menyesuaikan diri dan membentuk kebiasaan baru.

Terlepas dari baik buruknya, yang menarik adalah bagaimana pengguna gadget tetap dapat merespon perkembangan ini dengan sikap pribadi masing-masing. Misalnya seperti yang terjadi di tempat saya bekerja. Ketika demam game LINE sedang merebak, penggunaan gadget juga tetap dapat dilakukan sebagai kegiatan komunal. Misalnya dengan menggunakan 1 gadget untuk bermain bersama-sama.

Dalam suatu masyarakat akan selalu terjadi proses negosiasi dan suatu hal tidak berjalan mutlak. Dalam hal perkembangan teknologi, masyarakat pengguna gadget akan memiliki sikap masing-masing dalam merespon produk yang dilempar ke pasar, begitu juga dengan kalangan produsen yang akan memilih posisinya masing-masing dalam menanggapi situasi yang terjadi di pasar.

Sekarang terserah gadgeteers, apakah gadgeteers akan memanfaatkan semua yang ditawarkan oleh pasar ataukah memilah-milah sesuai dengan kebutuhan gadgeteers?Artikel Menarik Lainnya:

The following two tabs change content below.