Lagu Just The Way You Are yang dibawakan oleh Bruno Mars adalah lagu yang paling banyak dibeli secara digital selama tahun 2011 dengan angka penjualan fantastis sebesar 12.5 juta kopi jauh mengalahkan lagu On The Floor milik Jennifer Lopez dengan penjualan 8.4 juta kopi, Rolling In The Deep-nya Adele  dan Born This Way-nya Lady Gaga masing-masing dengan penjualan 8.2 juta kopi.1

Angka-angka penjualan fantastis tersebut diraih berkat bantuan teknologi digital. Setiap kehadiran teknologi baru yang diadaptasi umat manusia secara luas selain menghasilkan manfaat juga akan memunculkan efek samping.

Pembajakan menjadi duri dalam daging semenjak bangkitnya era musik digital. Pendapatan global industri musik digital tumbuh 8% pada tahun 2011 atau bernilai sekitar US$5.2 milliar di mana pada saat yang bersamaan 28% atau sekitar 1 dari 4 pengguna internet dunia rutin mengakses sebuah situs yang menyediakan download lagu bajakan dalam sebulan.1

Pada tahun 2009, Industri musik digital Indonesia sendiri diperkirakan bernilai US$27.7 juta atau sekitar Rp288.7 milliar (kurs rata-rata 2009 US$1 = Rp10.425). Angka tersebut mengalami kenaikan 6.5% dibandingkan tahun sebelumnya. Dari total nilai industri musik digital Indonesia tahun 2009 tadi, 96% diantaranya masih disumbang oleh pendapatan dari ringback tone (RBT).2

Masalah Dengan Pembajakan

Masalah pertama dengan pembajakan digital adalah pembajakan itu illegal (Baca :  melanggar hukum) namun peredarannya relatif bebas. Tidak ada orang yang perlu sembunyi-sembunyi  mendengarkan lagu Laskar Pelangi yang baru didownload dari situs bajakan. Pun tidak ada orang yang perlu sembunyi-sembunyi saat mengcopy 1 album Saykoji dari external hard disk temannya. Kebebasan ini yang membuat orang yang secara moral tidak terlalu merasa bersalah saat mendownload, mengedarkan dan mendengarkan lagu-lagu bajakan.

Ayo kita bandingkan dengan film porno yang sama-sama illegal. Untuk menonton film porno, tidak sedikit orang yang harus sembunyi-sembunyi dari orang tua, teman atau kekasihnya. Bahkan film porno di komputer pun kerap disimpan dalam folder dengan nama yang disamarkan agar orang lain tidak mudah menemukannya. Kebiasaan ini yang membuat sebagian orang yang secara moral sedikit banyak merasa bersalah saat mendownload, mengedarkan dan menonton film porno.

Masalah kedua adalah tidak ada yang mampu menghentikan pembajakan. Penegak hukum dari institusi manapun dan dari negara manapun di berbagai belahan dunia ini tidak (atau belum?) ada satupun yang berhasil membersihkan tuntas pembajakan di wilayah otoritas mereka. Langkah penegakan hukum sudah sering kita lihat dan dengar di media namun tidak sulit kita melihat pembiaran yang terjadi.

Mau Lawan Pembajakan?

Tahun 2003 Madonna pernah mencoba menghentikan pembajakan album terbaru-nya saat itu The American Life. Dia membanjiri situs file sharing yang saat itu sedang ngetop, Kazaa, dengan file lagu bajakan palsu dengan beberapa judul sesuai single di album terbaru-nya yang jika diputar tidak ada lagu atau musik apapun melainkan hanya suara Madonna berteriak, “What the fvck are you doing?

Sukses?

Beberapa waktu kemudian, lagu bajakan aslinya muncul di web mp3-sharing lain dan situs web resmi Madonna dicrack. Pada situs web Madonna tersebut tersisa tulisan,“This is what the fvck i think im doing” dan Album The American Life pun dapat didownload gratis.

Perlawanan itu terjadi bukan karena Madonna telah menyerang pembajak. Perlawanan itu terjadi karena Madonna dianggap telah menyerang sebuah budaya. Budaya gratis. Budaya yang melekat kuat jauh sebelum kisah Madonna tersebut bahkan hingga saat ini. Kesalahan yang membudaya sering kali membuat sebagian orang yang melakukannya merasa benar dan tidak jarang menjadi lebih galak.

(Lagu) Gratis Banyak Kenapa Bayar?

(Lagu) Gratis Banyak Kenapa Bayar?

Masalahnya dengan budaya gratis tersebut adalah tidak ada yang benar-benar gratis di dunia ini. Layanan-layanan dan konten-konten gratis yang biasa orang peroleh dari internet sebenarnya telah dibayar oleh pihak ke-3 (Misal : Pemasang iklan). Namun hal tersebut membuat banyak orang dengan mudah menganggap apapun yang ada di internet harus dapat diperoleh dengan gratis.

Pada kenyataannya, sebagian besar musisi tidak memiliki pihak ke-3 yang mensponsorinya padahal musisi tersebut juga layaknya pekerja lainnya tetap perlu bayar makan, bayar listrik dan beli kebutuhan hidup sehari-hari lainnya untuk dia dan keluarganya menggunakan uang.

Solusi Hadapi Pembajakan

Lalu bagaimana?

“Every dollar you spend on a band (whether it be on their music, concert tickets, or merchandise) is a statement; it says that you want the artist to continue to make music. In buying something, you are essentially helping fund the artist’s future endeavors.” Mike Shinoda, Linkin Park

Kalimat inspiratif Mike Shinoda pada blognya tersebut mengajak kita untuk mengubah paradigma. Saat kita membeli lagu / album dari seorang musisi atau sebuah band, kita bukan sedang membeli lagu / album (yang kita tahu kita dapat peroleh gratis) melainkan kita sedang memberikan pernyataan kepada musisi tersebut bahwa kita mau dia untuk tetap lanjut berkarya.

Untuk mendukung perubahan paradigma ini, pelaku bisnis musik digital haruslah mampu menyediakan layanan yang dianggap mudah dengan koleksi lagu yang relatif lengkap dan penawaran harga yang relatif terjangkau oleh sebanyak mungkin pengguna internet dalam memperoleh musik digital favorit mereka.

Salah satu layanan musik digital legal Indonesia yang patut mendapat perhatian adalah MelOn. Kenapa?

MelOn - Tempat Beli Musik Digital Legal

MelOn - Tempat Beli Musik Digital Legal

1)      MelOn memiliki ratusan ribu koleksi  lagu Indonesia, barat, Korea, Jepang dan Mandarin yang terus bertambah setiap harinya. Pengguna dapat mendownload lagu terbaru sepuasnya!

2)      MelOn menyediakan MelOn Player yang menawarkan kemudahan transfer lagu yang telah dibeli dari komputer / laptop ke berbagai gadget lainnya seperti ponsel, external hard disk atau MP3 player.

3)      Layanan MelOn dapat kita berikan sebagai hadiah ke orang lain baik itu untuk rekan bisnis, teman dekat, pasangan, orang tua ataupun mantan pacar.

4)      MelOn menyediakan free trial bagi para pendaftar untuk mencoba layanan mereka selama 1 minggu dan tetap legal. Pengguna Telkomsel, Flexi, XL dan Indosat dapat mendaftarkan nomor ponsel yang mereka gunakan untuk mendapatkan free trial selama 2 minggu.

5)      Aplikasi MelOn juga tersedia di Android dan Blackberry sehingga pengguna kedua jenis platform itu dapat langsung menikmati layanan musik digital legal tanpa perlu repot memindahkannya dari PC terlebih dahulu.

6)      MelOn memudahkan pengguna untuk membayar lagu digital legal yang dibelinya dengan menyediakan berbagai macam metode pembayaran yang dapat dipilih mulai dari kartu kredit, transfer bank, pembayaran eCommerce KlikBCA, pemotongan pulsa ponsel hingga penggabungan dengan tagihan Speedy.

7)      MelOn menawarkan beberapa paket pilihan dengan harga yang sangat terjangkau mulai dari hanya Rp3.000 dan paket dengan harga khusus untuk pengguna layanan internet Telkom Speedy.

Siap memberikan pernyataan kepada musisi favorit bahwa kita ingin dia untuk terus berkarya?

Daftar MelOn di sini sekarang juga dan jadilah bagian dari revolusi musik digital Indonesia!

 

Sumber :

1 International Federation of the Phonographic Industry. (2012). Digital Music Report

2 International Federation of the Phonographic Industry. (2010). Recording Industry in Numbers

Featured image credit : nfocus on Sxc.HuArtikel Menarik Lainnya:

The following two tabs change content below.